Filsafat Ilmu
Hubungan Etika dan Ilmu Pengetahuan: Problem Nilai dalam llmu Pengetahuan, Penemuan dan Penlitian Ilmiah Pribadi Terkait Materi
1.
Etika
Etika adalah cabang dari filsafat yang membicarakan tentang nilai baikburuk.
Etika disebut juga Filsafat Moral. Etika membicarakan tentang
pertimbanganpertimbangan tentang tindakan-tindakan baik buruk, susila tidak
susila dalam hubungan antar manusia. Secara umum etika
diklasifikasikan menjadi dua jenis;
a. Etika deskriptif yang menekan pada pengkajian ajaran moral yang
berlaku, membicarakan masalah baik-buruk tindakan manusia dalam hidup bersama.
b. Etika normatif, suatu kajian terhadap ajaran norma baik buruk
sebagai suatu fakta, tidak perlu perlu mengajukan alasan rasional terhadap
ajaran itu, cukup merefleksikan mengapa hal itu sebagai suatu keharusan. Etika
normatif terbagi menjadi dua:
1) Etika umum yang membicarakan tentang kebaikan secara umum,
2) Etika khusus yang membicarakan pertimbangan baik buruk dalam bidang
tertentu.
Dalam kehidupan sehari-hari pengertian etika sering disamakan
dengan moral, bahkan lebih jauh direduksi sekedar etiket. Moral berkaitan
dengan penilaian baik-buruk mengenai halhal yang mendasar yang berhubungan
dengan nilai kemanusiaan, sedang etika /etiket berkaitan dengan sikap dalam
pergaulan, sopan santun, tolok ukur penilaiannya adalah pantas-tidak pantas. Di
samping itu ada istilah lain yang berkaitan dengan moral, yaitu norma. Norma
berarti ukuran, garis pengarah, aturan, kaidah pertimbangan dan penilaian.
Norma adalah nilai yang menjadi milik bersama dalam suatu masyarakat yang telah
tertanam dalam emosi yang mendalam sebagai suatu kesepakatan bersama (Charis
Zubair: 20) Norma ada beberapa macam:
a.
Norma
sopan santun
b.
Norma
hukum
c.
Norma
kesusilaan (moral)
d.
Norma
agama.
Masing-masing norma ini mempunyai sanksi.
2.
Ilmu Pengetahuan
Ilmu
pengetahuan yang dalam bahasa Inggris science, bahasa lati scientia berarti
mempelajari atau mengetahui. Ilmu pengetahuan berbeda dengan pengetahuan
(episteme). Ilmu pengetahuan bisa berasal dari pengetahuan tetapi tidak semua
pengetahuan itu adalah ilmu. Ada beberapa syarat suatu pengetahuan
dikategorikan ilmu. Menurut I.R. Poedjowijatno ilmu pengetahuan memiliki beberapa
syarat:
a.
Berobjek, objek material sasaran/bahan
kajian, objek formal yaitu sudut pandang pendekatan suatu ilme terhadap
objeknya
b.
Bermetode, yaitu
prosedur/cara tertentu suatu ilmu dalam usaha mencari kebenaran
c.
Sistematis, ilmu
pengetahuan seringkali terdiri dari beberapa unsur tapi tetap merupakan satu
kesatuan. Ada hubungan, keterkaitan antara bagian yang satu dengan bagian yang
lain.
d.
Universal, ilmu
diasumsikan berlaku secara menyeluruh, tidak meliputi tempat tertentu atau
waktu tertentu. Ilmu diproyekasikan berlaku seluas-luasnya. Adapun ilmu pengetahuan
memilki beberapa sifat:
1)
Terbuka: ilmu
terbuka bagi kritik, sanggahan atau revisi baru dalam suatu dialog ilmiah
sehingga menjadi dinamis.
2)
Milik umum, ilmu
bukan milik individual tertentu termasuk para penemu teori atau hukum. Semua
orang bisa menguji kebenarannya, memakai, dan menyebarkannya.
3)
Objektif:
kebenaran ilmu sifatnya objektif. Kebenaran suatu teori, paradigma atau aksioma
harus didukung oleh fakta-fakta yang berupa kenyataan. Ilmu dalam penyusunannya
harus terpisah dengan subjek, menerangkan sasaran perhatiannya sebagaimana apa
adnya.
4)
Relatif:
walaupun ilmu bersifat objektif, tetapi kebenaran yang dihasilkan bersifat relative/tidakl
mutlak termasuk kebenaran ilmu-ilmu alam. Tidak ada kebenaran yang absolut yang
tidak terbantahkan, tidak ada kepastian kebenaran, yang ada hanya tingkat
probabilitas yang tinggi.
3.
Implikasi
Etis dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Problem dari ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan dimensi
etis sebagai pertimbangan dan kadang-kadang mempunyai pengaruh pada proses
perkembangan lebih lanjut terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanggung
jawab etis merupakan sesuatu yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Ilmuwan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan
teknologi harus memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia, menjaga
keseimbangan ekosistem, bertanggung jawab pada kepentingan umum, kepentingan
generasi mendatang, dan bersifat universal. Pada dasarnya ilmu pengetahuan dan
teknologi adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan
untuk menghancurkan eksistensi manusia. Tanggung jawab ilmu pengetahuan dan teknologi menyangkut juga
tanggung jawab terhadap hal-hal yang akan dan telah diakibatkan ilmu
pengetahuan dan teknologi di masa-masa lalu, sekarang maupun akibatnya bagi masa depan berdasar keputusan bebas manusia dalam kegiatannya. Penemuan baru dalam ilmu pengetahuan dan
teknologi terbukti ada yang dapat mengubah suatu aturan baik alam maupun
manusia.
Jika melihat beberapa dampak negatif dari perkembangan teknologi, maka betapa
perlunya kendali etik terhadap perkembangan teknologi modern, untuk mencegah
proses degeneratif berlanjut. Jacob berpendapat bahwa usaha-usaha yang dapat
dilakukan untuk meredam pengaruh negatif tersebut antara lain adalah:
a. Rehumanisasi Mengembalikan martabat manusia dalam perkembangan teknologi modern yang sangat cepat itu dengan berbagai cara.
b.
Kemampuan
memilih Etika seharusnya menentukan bahwa apa yang mungkin diteliti dan
dikembangkan tidak dapat dilakukan jika tidak manusiawi, maka segala yang
teknis mungkin akan dikerjakan, tidak dipertentangkan dan dengan disaring oleh
nilai-nilai kemanusiaan.
c.
Arah
perkembangan kemajuan Dalam arah perkembangan kemajuan nasional, bahkan
internasional diperlukan etika untuk menjamin keadilan sosial internasional dan
hak asasi bangsa-bangsa.
d.
Revitalisasi
Diperlukan daya-daya positif untuk mencegah distorsi biokultural yang
berkelanjutan. Pembangunan pada akhirnya akan menuju ke suatu kebudayaan baru
di masa depan. Persiapan-persipan harus menyeluruh. Kode-kode harus jelas dan
dipegang teguh dalam kehidupan sehari-hari, terus diadaptasi dan diseminasi
seluas mungkin dalam berbagai lingkungan dengan berbagai media
4.
Nilai-Nilai
dalam Ilmu Pengetahuan
Dalam
sejarah perkembangan ilmu pengetahuan terdapat masalah mendasar yang sampai
sekarang menjadi perdebatan panjang yaitu masalah apakah ilmu itu beba nilai
atan tidak. Ada dua sikap dasar. Pertama kecederungan puritan-elitis, yang
beranggapan bahwa ilmu itu bebas nilai, bergerak sendiri (otonom) sesuai dengan
hukum-hukumnya. Ilmu berupa bebas nilai atau tidak bebas nilai
merupakan rasionalisasi ilmu pengetahuan terjadi sejak Rene Descartes dengan
sikap skeptismetodisnya meragukan segala sesuatu, kecuali dirinya yang sedang
ragu-ragu (Cogito Ergo Sum). Sikap ini berlanjut pada masa Aufklarung, suatu
era yang merupakan usaha manusia untuk mencapai pemahaman rasional tentang
dirinya dan alam. Persoalannya adalah ilmu-ilmu itu berkembang dengan pesat
apakah bebas nilai atau justru tidak bebas nilai.
Teori ilmu bebas nilai berpandangan, jika ilmu tidak bebas nilai
maka perkembangan ilmu akan terhambat karena terikat nilai nilai yang ada.. Paling tidak ada tiga
faktor sebagai indikator bahwa ilmu pengetahuan itu bebas nilai, yaitu :
1)
Ilmu
harus bebas dari pengandaianpengandaian yakni bebas dari pengaruh eksternal
seperti : faktor politis, ideologi, agama, budaya, dan unsur kemasyarakatan
lainnya.
2)
Perlunya
kebebasan usaha ilmiah agar otonomi ilmu pengetahuan terjamin. Kebebasan itu
menyangkut kemungkinan yang tersedia dan penentuan diri.
3)
Penelitian
ilmiah tidak luput dari pertimbangan etis yang sering dituding menghambat
kemajuan ilmu, karena nilai etis itu sendiri bersifat universal.
Tujuan ilmu pengetahuan adalah untuk ilmu pengetahuan itu sendiri. Motif dasar dari ilmu pengetahuan adalah memenuhi rasa ingin tahu dengan tujuan mencari kebenaran. Sikap seperti ini dimotori oleh Aristoteles yang kemudian dilanjutkan oleh ilmuwanilmuwan ilmu alam. Ilmu harus otonom, tidak boleh tunduk pada nilai-nilai di luar ilmu sseperti nilai agama, nilai moral, nilai sosial, kekuasaa. Jika ilmu tunduk pada nilai-nilai di luar dirinya maka tidak akan didapatkan kebenaran ilmiah objektif dan rasional. Ilmu pengetahuan tidak akan berkembang. Ia hanya sekumpulan keyakinan-keyakinan tanpa didukung argument yang objektif dan rasional. Yang ke dua kecenderungan pragmatis. Ilmu pengetahuan tidak hanya semata-mata mencari kebenaran. Ilmu pengetahuan harus berguna untuk memecahkan persoalan hidup manusia. Kebenaran ilmiah tidak hanya logisrasional, empiris, tetapi juga pragmatis. Kebenaran tidak ada artinya kalau tidak berguna bagi manusia.
5.
Sikap
Seorang Ilmuwan
Sikap
ilmiah harus dimiliki oleh setiap ilmuwan. Perlu di sadari bahwa sikap ilmiah
ini ditujukan pada dosen, tetapi harus juga ada pada mahasiswa yang merupakan
out put dari aktivitas ilmiah di lingkungan akademis.
a. Sikap
ilmiah pertama yang harus dimiliki oleh setiap ilmuwan adalah kejujuran dan
kebenaran. Nilai kejujuran dan kebenaran ini merupakan nilai interinsik yang
ada di dalam ilmu pengetahuan, sehingga harus integral masuk dalam etos semua
aktor ilmu pengetahuan di dalam lembaga akademis.
b. Tanggung
jawab. Sikap ini mutlak dibutuhkan berkaitan dengan kegiatan penelitaian maupun
dalam aplikasi ilmu serta, di dalam aktivitas ilmiah akademis
c. Setia.
Seorang ilmuwan harus setia pada profesi dan setia pada ilmu 89 yang ditekuni.
d. Sikap
ingin tahu.Seorang intelektual/cendekiawan memiliki rasa ingin tahu
(coriousity) yang kuat untuk menggali atau mencari jawaban terhadap suatu
permasalahan yang ada di sekelilingnya secara tuntas dan menyeluruh, serta
mengeluarkan gagasan dalam bentuk ilmiah sebagai bukti hasil kerja mereka
kepada dunia dan masyarakat awam.
e. Sikap
kritis. Bagi seorang cendekiawan, sikap kritis dan budaya bertanya dikembangkan
untuk memastikan bahwa kebenaran sejati bisa ditemukan.
f. Sikap
independen/mandiri. Kebenaran ilmu pengetahuan pada hakekatnya adalah sesuatu
yang obyektif, tidak ditentukan oleh imajinasi dan kepentingan orang tertentu.
g. Sikap
terbuka. Walaupun seorang cendekiawan bersikap mandiri, akan tetapi hati dan
pikirannya bersifat terbuka, baik terhadap pendapat yang berbeda, maupun
pikiran-pikiran baru yang dikemukakan oleh orang lain. Sebagai ilmuwan, dia
akan berusaha memperluas wawasan teoritis dan keterbukaannya kepada kemungkinan
dan penemuan baru dalam bidang keahliannya.
h. Sikap
rela menghargai karya& pendapat orang lain Seeorang cendekiawan bersedia
berdialog secara kontinyu dengan koleganya dan masyarakat sekitar dalam
keterlibatan yang intensif dan sensitif.
i.
Sikap menjangkau
kedepan.Cendekiawan adalah pemikir-pemikir yang memiliki kemampuan
penganalisisan terhadap masalah tertentu atau yang potensial dibidangnya.
“Change maker” adalah orang yang membuat perubahan atau agar perubahan di dalam
masyarakat.
Kesimpulan
Ada hubungan yang sangat erat antara filsafat,
etika dan ilmu. Ilmu yang bergerak otonom tidak boleh meninggalkan landasan
filosofisnya. Landasan filosofis ini menjadikan ilmu masih tetap pada hakekat
keilmuannya. Ilmu sebabagi bidang yang otonom tidak bebas nilai. Ia selalu
berkaitan dengan nilai-nilai etika terutama dalam penerapan ilmu. Etika adalah
cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku atau perbuatan manusia dalam
hubungannya dengan baik buruk.. Ilmu harus diusahakan dengan aktivitas manusia,
aktivitas itu harus dilaksanakan dengan metode tertentu, dan akhirnya aktivitas
metodis itu mendatangkan pengetahuan yang sistematis. Sehingga ciri dari
pengetahuan ilmiah adalah empiris, sistematis, obyektif, analitis, dan
verifikatif Etika sebagai salah satu cabang dalam filsafat akan memberikan
arahan (guiedence) bagi gerak ilmu, sehingga membawa kemanfaatan bagi manusia.
Opini Pribadi terkait dengan Tema
Menurut saya etika sangatlah penting di era sekarang ini karena seiring dengan perkembangan zaman yangsemakin canggih apabila tidak dibarengi dengan penanaman dan pembentukan manusia yang beretika makan akan terjadi kekacauan. maka dari itu dalam mengembangkan ilmu pengetahuan perlu adanya keterlibatan etika dalam ilmu pengetahuan
Komentar
Posting Komentar