Kebenaran Ilmiah

Kebenaran Ilmiah

(Oleh : Yogi Supriyono) 

1. Pengertian Kebenaran Ilmiah

Kebenaran ilmiah adalah suatu pengetahuan yang jelas dan pasti kebenarannya menurut norma-norma keilmuan. Kebenaran ilmiah cenderung bersifat objektif, didalamnya terkandung sejumlah pengetahuan menurut sudut pandang yang berbeda-beda, tetapi saling bersesuaian. Kebenaran ilmiah tidak bisa dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu sendiri sejauh mana dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia. Disamping itu proses untuk mendapatkannya haruslah melalui tahap- tahap metode ilmiah.


2. Teori Kebenaran 

Secara tradisional dikenal dua teori kebenaran, yaitu: teori kebenaran koherensi, dan teori kebenaran korespondensi. Michael Williams (Muhajir, 1998:13) mengenalkan teori kebenaran, yaitu: kebenaran koherensi, kebenaran korespondensi, kebenaran performatif, dan kebenaran pragmatik. 


a. Teori Kebenaran Koherensi  

Koherensi berarti hubungan yang terjadi karena adanya gagasan (prinsip, relasi, aturan, konsep) yang sama. Berdasarkan teori ini suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Artinya pertimbangan adalah benar jika pertimbangan itu bersifat konsisten dengan pertimbangan lain yang telah diterima kebenarannya, yaitu menurut logika. Sebagai contoh, kita beranggapan bahwa setiap tumbuhan pasti akan mati. Jika bunga adalah tumbuhan, maka pernyataan bahwa bunga akan mati merupakan pernyataan yang benar. 

b. Teori Kebenaran Korespondensie

Kebenaran koresmondensi merupakan teori yang berpandangan bahwa sesuatu dikatakan benar apabila ada kesesuaian antara pernyataan tentang fakta dengan fakta itu sendiri. Kebenaran atau suatu keadaan dikatakan benar jika ada kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh suatu pendapat dengan fakta. Teori ini sering diasosiasikan dengan teori-teori empiris pengetahuan. Jadi secara sederhana dapat disimpulkan bahwa berdasarkan teori korespondensi suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi(berhubungan) dan sesuai dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut(susiasumantri, 1990:57).

c. Teori Kebenaran Performatif 

Teori ini menyatakan bahwa kebenaran diputuskan atau dikemukakan oleh pemegang otoritas tertentu. Kebenaran Performatif yaitu sesuatu dikatakan benar apabila memang dapat diaktualkan dalam tindakan. 

d. Teori Kebenaran Pragmatik

Teori pragmatic dicetuskan oleh filsuf pragmatis dari Amerika Serikat Charles S. Peirce (1839-1914) dalam sebuah makalah yang terbit pada tahun 1878 yang berjudul “How to Make our Ideals Clear”. Teori ini kemudian dikembangkan oleh beberapa ahli filsafat yang kebanyakan adalah berkebangsaan Amerika yang menyebabkan filsafat ini sering dikaitkan dengan filsafat Amerika. Bagi kaum pragmatis kebenaran adalah sama artinya dengan kegunaan. Ide, konsep, pengetahuan, atau hipotesis yang benar adalah ide yang berguna. Ide yang benar adalah ide yang paling mampu memungkinkan seseorang (berdasarkan ide itu) melakukan sesuatu secara paling berhasil dan tepat guna. Berhasil dan berguna adalah kriteria utama untuk menentukan apakah suatu ide itu benar atau tidak. Bagi kaum pragmatis jika ide, pengetahuan atau konsep tidak ada manfaatnya maka ide tersebut merupakan ide yang tidak benar.

Teori pragmatisme (the pragmatic theory of truth) menganggap suatu pernyataan, teori atau dalil itu memliki kebenaran bila memiliki kegunaan dan manfaat bagi kehidupan manusia. Salah satu contoh teori ini dalam matematika adalah pada trigonometri pengukuran sudut berguna untuk menentukan arah, kemiringan bidang atau mendesain dan membuat suatu bangun ruang. Kaum pragmatis menggunakan kriteria kebenarannya dengan kegunaan (utility), dapat dikerjakan (workability) dan akibat yang memuaskan (satisfactor consequence). Oleh karena itu, tidak ada kebenaran yang mutlak/ tetap, kebenarannya tergantung pada manfaat dan akibatnya. Akibat/hasil yang memuaskan bagi kaum pragmatis adalah : sesuai dengan keinginan dan tujuan, sesuai dengan teruji dengan suatu eksperimen, ikut membantu dan mendorong perjuangan untuk tetap eksis (ada).

3. Sifat dan Kriteria Kebenaran Ilmiah

a. Struktur yang rasional-logis

Kebenaran dapat dicapai berdasarkan kesimpulan logis atau rasional dari proposisi atau premis tertentu. Karena kebenaran ilmiah bersifat rasional maka semua orang yang rasional (yaitu yang dapat menggunakan akal budinya secara baik). Dapat memahami kebenaran ilmiah. Oleh sebab itu kebenaran ilmiah kemudian dianggap sebagai kebenaran universal.

b. Sifat rasional (rationality) harus dibedakan dengan sifat masuk akal (reasonable). Sifat rasional terutama berlaku untuk kebenaran ilmiah sedangkan masuk akal biasanya berlaku bagi kebenaran tertentu diluar lingkup pengetahuan. Contohnya: tindakan marah dan menangis atau semacamnya, dapat dikatakan masuk akal sekalipun tindakan tersebut mungkin tidak rasional.

b. Isi empiris

Kebenaran ilmiah perlu diuji kenyataannya yang ada. Bahkan sebagian besar pengetahuan dan kebenaran ilmiah. Berkaitan dengan kenyataan empiris di alam ini. Spekulasi tetap ada namun sampai tingkat tertentu spekulasi itu bisa dibayangkan sebagai nyata atau tidak karena sekalipun sesuatu pernyataan dianggap benar secara logis, perlu dicek apakah pernyataan tersebut juga benar secara empiris.

c. Isi pragmatisme (dapat diterapkan).

Sifat ini berusaha menggabungkan kedua sifat kebenaran sebelumnya (logis dan empiris). Maksudnya jika suatu pernyataan “benar” dinyatakan “benar” secara logis dan empiris maka pernyataan tersebut juga harus berguna bagi kehidupan manusia, berguna berarti dapat untuk membantu manusia memecahkan berbagai persoalan dalam hidupnya.Adapun penjelasan Hamami berkaitan dengan Kriteria kebenaran Ilmiah  adalah sebagai berikut:

1) Pertama, kebenaran berkaitan dengan kualitas pengetahuan. 

2) Kedua, kebanaran dikaitkan dengan sifat atau karakteristik tentang cara atau metode apa yang digunakan subjek dalam membangun pengetahuannya itu. 

3) Ketiga, nilai kebenaran dikaitkan dengan ketergantungan terjadinya pengetahuan itu. 

4. Kebenaran Ilmiah Ditinjau Dari Aspek Subjektif Dan Objektif

Subjektivitas mrupakan bukti atau fakta yang ada dalam fikiran manusia sebagai persepsi, keyakinan juga perasaan. Sedangkan Objektivitas merupakan sesuatu yang bisa diukur yang ada di luar dan persepsi manusia. Kebenaran pengetahuan yang dikaitkan atas ketergantungan terjadinya pengetahuan itu, artinya bagaimana relasi antara subjek dan objek, manakah yang lebih dominan untuk membangun pengetahuan itu. Jika subjek yang lebih berperan, maka jenis pengetahuan itu mengandung nilai kebenaran yang sifatnya subjektif, artinya nilai kebenaran dari pengetahuan yang dikandungannya itu amat tergantung pada subjek yang memiliki pengetahuan itu. Atau, jika; jika objek amat berperan, maka sifatnya objektif, seperti pengetahuan tentang alam atau ilmu-ilmu alam.

Ilmu merupakan bagian dari ilmu pengetahuan, tidak bebas dari nilai kebenaran, kegunaan dan manfaatnya sesuai dengan visi dan orientasinya, cepat atau lambat ilmu akan menyentuh nilai kemanusiaan melalui obyeknya, maka aktualisasi dan aplikasi filsafat ilmu mutlak dibutuhkan dalam upaya mencari dan menentukan arti dan makna kebenaran ilmiah. Misalnya, dalam islam dinyatakan bahwa diutusnya Muhammad Rasulullah semata-mata menyempurnakan akhlak mulia, begitu juga limu yang bersumber dari manusia menurut watak alami/fithrahnya, sarat dengan nilai-nilai moral. Disinilah letak kebenaran yang bersifat koherensif dan idealis. Dengan demikian ilmu dalam aliran ini harus yang berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan sebagaimana pandangan Phenomenologi.Kebenaran dalam aliran Positivisme dan Utilitarianisme terwujud jika ilmu memberi justifikasi terhadap setiap produk ilmu dari lembaga yang berwenang dan tidak terikat/terlepas dari nilai moral. Kebenaran disini adalah kebenaran korespondensif dan pragmatis sebagai ciri dari positivisme dan utilitarianisme yang bersifat obyektif dan faktual. Dalam tahap ini kebenaran ilmiah dalam aliran ilmu ini apabila bersifat konkrit,akurat,abstrak, dan manfaat yang mengantarkan manusia menuju dan meraih kemajuan dalamidupnya. .


5. Peran Dan Fungsi Filsafat Ilmu Dalam Mencari Arti Dan Makna Kebenaran Ilmiah

Filsafat ilmu sebagaimana dijelaskan dimuka adalah sebagai refleksi yang tidak pernah mengalami titik henti dalam meneliti hakekat ilmu untuk menuju pada sasarannya, yaitu apa yang disebut sebagai kenyataan atau kebenaran. Sasaran yang tidak pernah akan habis dipikir dan tidak akan pernah selesai diterangkan, sedemikian rupa sehingga menjadi sangat penting kehadirannya dalam mencari kenyataan dan kebenaran dalam ilmu, dan itu memang tugasnya. Ilmu merupakan bagian dari ilmu pengetahuan, tidak bebas dari nilai kebenaran, kegunaan dan manfaatnya sesuai dengan visi dan orientasinya, cepat atau lambat ilmu akan menyentuh nilai kemanusiaan melalui objeknya, maka aktualisasi dan aplikasi filsafat ilmu mutlak dibutuhkan dalam upaya mencari dan menentukan arti dan makna kebenaran ilmiah. Misalnya, dalam islam dinyatakan bahwa diutusnya Muhammad Rasulullah semata-mata menyempurnakan akhlak mulia, begitu juga ilmu yang bersumber dari manusia menurut watak alami atau fithrahnya, sarat dengan nilai-nilai moral. Disinilah letak kebenaran yang bersifat koherensif dan idealis. Dengan demikian, ilmu dalam aliran ini harus yang berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan sebagaimana pandangan Phenomenologi. Kebenaran dalam aliran Positivisme dan Utilitarianisme terwujud jika ilmu memberi justifikasi terhadap setiap produk ilmu dari lembaga yang berwenang dan tidak terikat/terlepas dari nilai moral. Kebenaran disini adalah kebenaran korespondensif dan pragmatis sebagai ciri dari positivisme dan utilitarianisme yang bersifat obyektif dan faktual. Dalam tahap ini kebenaran ilmiah dalam aliran ilmu ini apabila bersifat konkrit, akurat, abstrak, dan manfaat yang mengantarkan manusia menuju dan meraih kemajuan dalam hidupnya. Akibatnya, segala hal yang bersifat inmateriil seperti moral bahkan agama, tidak menjadi landasan kebenaran dan kemanfaatan. Disinilah urgensi filsafat ilmu mutlak diperlukan sebagai landasan agar tidak mengarah pada hedonistik yang merusak tatanan hidup dan nilai kemanusiaan. Kebenaran ilmiah dalam ilmu mempunyai arti dan makna bahwa ilmu banyak dipengaruhi dan ditentukan oleh policy penguasa, untuk itu seharusnya polisi penguasa mampu melindungi semua kepentingan masyarakat dan berusaha memuaskan atau menserasikan konflik kepentingan yang tumpang tindih sehingga terjamin kehidupan manusia dan kehadiran ilmu menjadi sebuah kedamaian.










Kesimpulan


Kebenaran ilmiah adalah suatu pengetahuan yang jelas dan pasti kebenarannya menurut norma-norma keilmuan. Kebenaran ilmiah cenderung bersifat objektif, didalamnya terkandung sejumlah pengetahuan menurut sudut pandang yang berbeda-beda, tetapi saling bersesuaian. Michael Williams (Muhajir, 1998:13) mengenalkan teori kebenaran, yaitu: kebenaran koherensi, kebenaran korespondensi, kebenaran performatif, dan kebenaran pragmatik. Muhajir (ibid) menambahkannya dengan kebenaran paradigmatik, dan Bakhtiar (2004:121) mengemukakan bahwa agama juga sebagai teori kebenaran. Subjektivitas dan Objektivitas Merupakan dua hal yang berkaitan dengan apa-apa yang ada di dalam atau diluar fikiran manusia. Subjektivitas mrupakan bukti atau fakta yang ada dalam fikiran manusia sebagai persepsi, keyakinan juga perasaan. Sedangkan Objektivitas merupakan sesuatu yang bisa diukur yang ada di luar dan persepsi manusia.

Struktur yang rasional-logis yaitu kebenaran dapat dicapai berdasarkan kesimpulan logis atau rasional dari proposisi atau premis tertentu. Isi empiris yaitu kebenaran ilmiah perlu diuji kenyataannya yang ada. Bahkan sebagian besar pengetahuan dan kebenaran ilmiah. Teori Kebenaran Performatif yaitu teori ini menyatakan bahwa kebenaran diputuskan atau dikemukakan oleh pemegang otoritas tertentu. Kebenaran ilmiah dalam ilmu mempunyai arti dan makna bahwa ilmu banyak dipengaruhi dan ditentukan oleh policy penguasa, untuk itu seharusnya policy penguasa mampu melindungi semua kepentingan masyarakat dan berusaha memuaskan atau menserasikan konflik kepentingan yang tumpang tindih sehingga terjamin kehidupan manusia dan kehadiran ilmu menjadi sebuah kedamaian.


Komentar