Dasar-dasar Aksiologi
Dsar-dasar Aksiologi dan Opini Pribadi Terkait Materi
A.
Pengertian
Aksiologi
Menurut
bahasa Yunani aksiologi berasalah dari kata axios artinya nilai dan logos
artinya teori atau ilmu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) aksiologi
adalah kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia kajian tentang
nilai-nilai khususnya etika. Secara istilah aksiologi adalah ilmu pengetahuan
yang menyelidiki hakikat nilai yang ditinjau dari sudut kefilsafatan. Sejalan
dengan itu juga aksiologi adalah studi tentang hakikat tertinggi, realitas, dan
arti nilai-nilai. Secara etimologis, istilah aksiologi
berasal dari Bahasa Yunani Kuno, terdiri dari kata “aksios” yang berarti nilai
dan kata “logos” yang berarti teori. Jadi aksiologi merupakan cabang filsafat
yang mempelajari nilai.
Berikut
definisi aksiologi menurut para ahli:
1. Suriasumantri, aksiologi adalah
teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.
2. Wibosono, aksiologi adalah
nilai-nilai sebagai tolak ukur kebenaran, etika, dan moral sebagai dasar
normative penelitian dan panggilan, serta penerapan ilmu.
3. Scheleer dan Langeveld,
mengontraskan aksiologi dengan praxeology, yaitu suatu teori dasar tentang
tindakan tetapi lebih sering dikontraskan dengan deontology, yaitu sutu teori
mengenai tindakan baik secara normal.
4. Kattsof, mendefinisikan
aksiologi sebagai ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai yang umumnya
ditinjau dari sudut pandang ke filsafatan.
B.
Landasan
Aksiologi
Hakikat
ilmu dipandang dari sudut aksiologi adalah cara penggunaan atau pemnafaatan
pengetahuan ilmiah. Asas dalam keilmuan tersebut digunakan atau dimanfaatkan
untuk kemaslahatan umat manusia.
Ilmu
dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk meningkatkan taraf hidup manusia dan
kesejahteraannya dengan menitik beratkan pada kodrat dan martabat, untuk
kepentingan manusia, maka pengetahuan ilmiah yang diperoleh disusun dan
dipergunakan secara komunal dan universal.
Dagobert
Runes (1963:32) mengemukakan beberapa persoalan dengan nilai yang mecakup:
a. Hakikat
nilai
K. Bertens berpendapat,
bahwa hakikat dari nilai-nilai yaitu;
1. Nilai berasal dari
kehendak (voluntarisme)
2. Nilai berasal dari
kesenangan (hedonisme)
3. Nilai berasal dari
kepentingan (perry)
4. Nilai berasal dari
hal yang lebih disukai (preference)
5. Nilai berasal dari
kehendak rasio murni
b. Tipe
nilai
Tipe nilai dapat
dibedakan antara lain intrinsik dan nilai instrumental. Nilai intrinsik
merupakan sebuah nilai akhir yang menjadi tujuan, dengankan nilai instrumental
merupakan alat untuk mencapai nilai intrinsik.
c. Kriterian
nilai
Kriterian nilai adalah
sesuatu yang menjadi ukuran nilai, bagaimana nilai yang baik, dan bagaimana
nilai yang tidak baik.
d. Status
metafisik nilai
Metafisik nilai
merupakan bagaimana hubungan nilai-nilai tersebut dengan realitas dan dibagi
menjadi tiga bagian:
1. Subjektivisme
adalah nilai semata-mata tergantung pengalaman manusia
2. Objektivisme
logis adalah nilai merupakan hakikat logis atau subsistensi, bebas dari
keberadaannya yang dikenal.
3. Objektivisme
metafisik adalah nilai merupakan sesuatu yang ideal bersifat integral,
objektif, dan komponen aktif dari kenyataan metafisik.
C.
Teori
Tentang Nilai
Teori Nilai membahas
dua masalah yaitu masalah Etika dan Estetika
a. Etika
Etika
berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata ethos yang berati adat
kebiasan tetapi ada yang memakai istilah lain yaitu moral dari bahasa latin
yakni jamak dari kata nos berati adat kebiasaan juga.
Etika
ini bersifat teori sedangkan moral bersifat praktek. Etika mempersoalkan
bagaimana semestinya manusia bertindak, sedangkan moral mempersoalkan bagaimana
semestinya tindakan manusia itu.
Antara
ilmu dan etika memiliki hubungan erat. Masalah moral tidak bisa dilepaskan
dengan tekad manusia untuk menemukan kebenaran, sebab untuk menemukan kebenaran
dan terlebih untuk mempertahankan kebenaran, diperlukan keberanian moral.
Dalam
perkembangan sejarah etika ada empat teori etika sebagai sistem filsafah moral
yaitu;
1. Hedoisme
adalah pandangan moral yang menyamakan baik menurut pandangan moral dengan
kesenangan.
2. Eudemonisme
menegaskan setiap kegiatan manusia mengejar tujuan dan adapun tujuan dari
manusia itu sendiri adalah kebahagiaan.
3. Utilitarisme
yang berpendapat bahwa tujuan hukum adalah memajukan kepentingan para warga
negara dan bukan memaksakan perintah-perintah ilahi atau melindungi apa yang
disebut hak-hak kodrati.
4. Deontologi
adalah pemikiran tentang moral yang diciptakan oleh Immanuel Kant.
b. Estetika
Estetika
berkaitan dengan nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki oleh
manusia terhadap lingkungan dan fenomena
disekelilingnya. Estetika membahas tentang indah atau tidaknya sesuatu.
Dalam
dunia pendidikan hendakilah nilai estetika menjadi patokan penting dalam proses
pengembangan pendidikan yakni menggunakan pendekatan estetis-moral.
D.
Kegunaan Aksiologi Terhadap Tujuan Ilmu Pengetahuan
Nilai
kegunaan ilmu, untuk mengetahui kegunaan filsafat ilmu atau untuk apa filsafat
ilmu itu digunakan dapat memulainya dengan melihat filsafat sebagai tiga hal,
yaitu;
a. Filsafat
sebagai kumpulan teori digunakan memahami dan mereaksi dunia pemikiran.
Jika seseorang hendak
ikut membentuk dunia atau ikut mendukung suatu ide yang membantuk suatu dunia,
hendak menentang suatu sistem kebudayaan, sistem ekonomi, atau sistem politik.
b. Filsafat
sebagai pandangan hidup
Filsafah dalam posisi
yang kedua ini semua teori ajarannya diterima kebenarannya dan dilaksanakan dalam kehidupan. Filsafat ilmu
sebagai pandangan hidup gunanya iala untuk petunjuk dalam menjalani kehidupan.
c. Filsafah
sebagai metodologi dalam memecahkan masalah
Dalam hidup ini kita
menghadapi banyak masalah. Bila ada batu di depan pintu, setiap keluar pintu
itu kaki kita tersandung, maka batu itu masalah. Kehidupan akan dijalani lebih
enak bila masalah-masalah dapat diselesaikan.
E.
Pendekatan Dalam Aksiologi
Ada
tiga ciri yang dapat kita kenali terhadap nilai, yaitu nilai yang berkaitan
subjektif, praktis, dan sesuatu yang ditambahkan pada objek.
Pertama, nilai
berkaitan dengan subjek. Artinya, nilai itu berkaitan dengan kehadiran manusia
sebagai subjek. Kalau tidak ada manusia yang memberi nilai, nilai itu tidak
akan pernah ada. Tanpa kehadiran manusia pun, kalau Gunung Merapi meletus ya
tetap meletus. Pasalnya sekarang, ketika Gunung Merapi meletus misalnya, apakah
itu sesuatu yang “indah” ataukah “membahayakan” bagi kehidupan
manusia. semuanya itu tetap memerlukan kehadiran manusia untuk memberikan
penilaian. Dalam hal ini nilai subjektivitas memang bergantung semata-mata pada
pengalaman manusia.
Kedua,
nilai dalam konteks praktis. Yaitu, subjek ingin membuat sesuatu seperti
lukisan, gerabah, dan lain-lain.
Ketiga, nilai-nilai
merupakan unsur-unsur obyektif yang menyusun kenyataan.
Kesimpulan
Aksiologi adalah
istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu; axios yang
berarti sesuai atau wajar. Sedangkan logos yang berarti ilmu. Aksiologi dipahami sebagai
teori nilai. Aksiologi ilmu (nilai) adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai, yang umumnya ditinjau
dari sudut pandang kefilsafatan (Kattsoff: 1992). Kaitan
Antara Aksiologi Dengan Filsafat Ilmu adalah Nilai itu bersifat objektif, tapi
kadang-kadang bersifat subjektif. Dikatakan objektif jika nilai-nilai tidak
tergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai. Aksiologi membberikan
jawaban untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan. Bagaimana
kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah nilai. Bagaimana
penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan nilai. Bagaimana kaitan
antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan
norma-norma nilai.
Opini pribadi terkait dengan tema
Menurut saya aksiologi merupakan salah satu cabang ilmu filsafatyang merupakan ilmu pengetahuan yang beroreientasi pada nilai dan etika yang di tinjau dari sudut pandang filsafat. aksiologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari filsafat tentang sebuah nilai dan etika
Komentar
Posting Komentar